Tentang Komputer Kuantum
// Rubrik Fisika · Majalah 1000guru · May 2016 //
“Komputer ‘klasik’ sudah tamat, hiduplah komputer ‘kuantum’!”
Pernyataan ini mungkin cukup
mengguncangkan bagi kita yang terbiasa berpikir bahwa komputer dapat
melakukan segalanya dan tak pernah salah. Namun, bisa saja saat ini kita
sedang berada di awal era baru, yakni era komputer kuantum. Komputer
ini memiliki kemampuan untuk menyaring, memilah, dan menganalisis data
yang hampir tak terbayangkan, yang bahkan bisa membuat superkomputer di
masa sekarang tampak seperti komputer di zaman batu. Apakah betul
seperti itu? Mari kita kenali komputer kuantum dengan lebih baik.
Komputer kuantum adalah alat yang
menggunakan prinsip-prinsip teori kuantum untuk mengolah informasi.
Teori kuantum dalam fisika mencoba menjelaskan perilaku objek-objek yang
sangat kecil, seperti molekul, atom, dan partikel. Dunia mikroskopis
ini sangat berbeda dengan dunia makroskopis sehari-hari. Dalam dunia
kuantum, materi dapat berperilaku seperti partikel dan gelombang. Hal
ini disebut dualisme partikel-gelombang yang merupakan salah satu
keunikan dari teori kuantum.
Untuk menggambarkan perbedaan partikel
dan gelombang, bayangkan ada seutas tali dan beberapa kelereng kecil
yang dilubangi di kedua sisinya yang dapat digunakan untuk memasukkan
tali tersebut. Sekarang, kita memiliki sejumlah kelereng yang dapat
meluncur dengan bebas di antara tali. Pada setiap saat, kita dapat
menyatakan dengan pasti di mana posisi kelereng di tali. Fisikawan
menyebut bahwa kelereng tersebut terlokalisasi. Dalam hal ini,
kelereng-kelereng itu berperilaku seperti partikel.
Selanjutnya, kita lepaskan
kelereng-kelereng tadi dari tali dan kita ikat salah satu ujung dari
tali ke dinding. Ujung tali yang lain kita pegang dan ayun ke atas dan
ke bawah. Maka, kita akan mendapatkan gelombang yang merambat dari satu
ujung tali ke ujung lainnya. Kita tidak dapat mengatakan posisi pasti si
gelombang, kita hanya tahu bahwa gelombang terdapat di sepanjang tali
tersebut.
Kemampuan partikel yang dapat berperilaku seperti gelombang ini membuat partikel dapat berada di lebih dari satu state
(keadaan) dalam suatu waktu. Fenomena ini disebut sebagai superposisi
kuantum. Konsekuensi dari kemungkinan ini seringkali sulit dipahami oleh
banyak orang. Kita ambil contoh, sakelar lampu yang dipakai sehari-hari
dapat berada dalam keadaan on (hidup) atau off (mati). Namun, ketika sakelar diciutkan ke skala atomik, sakelar kuantum tidak hanya dapat berada di keadaan on atau off, tetapi juga di keadaan campuran (mixed states) yang merupakan kombinasi on dan off secara bersamaan.
Komputer kuantum dapat memproses semua
jenis informasi yang diproses komputer klasik. Sebagai tambahannya,
komputer kuantum dapat menggunakan sifat unik (dan aneh) superposisi
kuantum untuk melakukan komputasi yang tidak dapat dilakukan oleh
komputer klasik.
Sejarah Komputer Kuantum
Gordon Moore, salah satu pendiri Intel,
di tahun 1960-an menyatakan bahwa jumlah transistor yang dapat dibuat
dalam satu mikroprosesor akan menjadi dua kali lipat setiap 18 bulan.
Pernyataan ini terkenal sebagai hukum Moore. Implikasi dari hukum Moore
ini adalah kita dapat terus meningkatkan kemampuan chip
komputer dengan cara menjejalkan transistor yang lebih banyak ke
dalamnya. Hukum Moore terbukti merupakan penanda yang akurat bagi
perkembangan industri komputer selama beberapa dekade belakangan.
Intel dan perusahaan komputer lainnya
mengalokasikan sumber daya yang sangat besar dalam riset untuk
memastikan bahwa hukum Moore tetap berlaku, sampai batas fisik absolut
tercapai. Tetapi, ada beberapa konsekuensi yang timbul dari hukum Moore.
Seiring dengan menyusutnya ukuran transistor dan chip, jumlah panas yang dihasilkan dalam chip komputer meningkat dan ada biaya yang sangat besar untuk menghilangkan panas yang berpotensi merusak chip.
Biaya ini tentu saja menghambat perkembangan kemampuan komputer
konvensional. Industri komputer khawatir jika biaya penghilangan panas
ini menjadi biaya utama dalam memproduksi komputer di masa depan.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah jika ukuran chip
mencapai skala nanometer (satu per triliun meter), efek kuantum menjadi
penting dan akan berpotensi sebagai sumber kesalahan dalam komputasi.
Implikasinya adalah akan sulit untuk membuat chip yang bekerja dengan benar. Di sinilah ilmuwan mulai berimajinasi tentang adanya komputer kuantum.
Konsep awal tentang komputer yang
beroperasi berdasarkan teori kuantum pertama kali diajukan oleh
fisikawan legendaris Amerika, Richard Feynman, pada tahun 1980-an.
Feynman menyadari komputer klasik tidaklah efisien ketika dipakai untuk
mensimulasikan dinamika sistem kuantum. Hal ini menyiratkan pula bahwa
ketika komputer konvensional dipakai untuk melakukan simulasi dalam
bidang seperti kimia kuantum, fisika material terkondensasi, atau desain
obat-obatan, dibutuhkan kekuatan komputasi yang sangat besar.
Richard Feynman mengajukan hipotesis
jika sebuah komputer generasi baru yang beroperasi berdasarkan fisika
kuantum akan bekerja secara lebih efisien dibandingkan dengan komputer
klasik. Hipotesis Feynman saat itu belum dapat dibuktikannya sendiri.
Namun, hal ini telah membukakan pintu untuk eksplorasi potensi kemampuan
komputer yang berdasarkan prinsip-prinsip teori kuantum. Dari sini
dimulailah cerita eksplorasi komputer kuantum. Sebagai contoh, pada awal
tahun 1990-an, David Deutsch, seorang fisikawan dari Inggris, dan
Richard Josza, seorang fisikawan dari Amerika Serikat, mengajukan
algoritma kuantum untuk pertama kalinya [Deutsch dan Josza, 1992].
Ilmu
seputar prinsip kerja komputer kuantum merupakan irisan sains komputer
dan fisika kuantum. Sumber gambar:
http://www.cnet.com/news/microsoft-explains-quantum-computing-so-even-you-can-understand/
Algoritma kuantum Deutsch-Jozsa dapat
dianalogikan dari cerita berikut ini. Misalkan kita hendak membuat
sakelar lampu untuk sebuah kamar mandi. Kita memutuskan bahwa sakelar
tersebut ditempatkan di luar kamar mandi, di samping pintu kamar mandi.
Tetapi, kita curiga bahwa rangkaian sakelar yang dipasang tukang listrik
yang kita bayar tidak bekerja dengan benar yang menyebabkan lampu kamar
mandi selalu hidup atau selalu mati, tidak peduli dengan posisi
sakelar.
Untuk memeriksa apakah sakelar memang bekerja atau tidak, kita harus mengubah posisi sakelar dua kali (sekali on dan sekali off)
dan melihat ke dalam kamar mandi setiap posisi sakelar berubah. Deutsch
dan Josza menemukan algoritma kuantum yang secara menakjubkan hanya
memerlukan seseorang untuk melihat ke dalam kamar mandi sekali saja
untuk menentukan rangkaian saklar bekerja atau tidak.
Riset dalam bidang komputer kuantum
mulai berkembang dengan cepat ketika riset Deutsch dan Josza diikuti
oleh penemuan algoritma kuantum lainnya dari fisikawan Amerika, Peter
Shor. Algoritma Shor dapat menemukan faktor prima dari bilangan bulat
yang sangat besar (sampai ratusan digit) [Shor, 1999]. Implikasi dari
ditemukannya algoritma ini mempengaruhi banyak bidang, seperti dalam hal
keamanan internet dan transaksi online.
Sebagian besar skema kriptografi yang
digunakan sekarang bergantung kepada fakta bahwa komputer konvensional
memerlukan waktu jutaan tahun untuk menemukan faktor prima dari bilangan
yang sangat besar yang digunakan untuk memecahkan kode kriptografi.
Namun, komputer kuantum dengan algoritma Shor dapat dengan mudah dan
cepat memecahkan kode tersebut.
Perkembangan lainnya adalah ditemukannya algoritma kuantum untuk mencari data tertentu dalam database
yang sangat besar oleh Lev Grover. Algoritma Grover membuat komputer
kuantum dapat mencari informasi penting jauh lebih cepat dari komputer
klasik [Grover, 1996].
Merealisasikan Komputer Kuantum
Dalam komputer konvensional, informasi disampaikan sebagai bilangan biner, 0 atau 1, yang disebut bit. Sementara itu, komputer kuantum menggunakan qubit (quantum bit) yang dapat berada dalam keadaan 0, 1, atau superposisi 0 dan 1.
Untuk membuat komputer kuantum, kita membutuhkan sejumlah besar qubit yang dapat bekerja bersama-sama secara terkontrol untuk melakukan komputasi. Qubit
bisa dibuat dari foton, atom, elektron, molekul atau objek kuantum
lainnya, yakni setiap objek yang sifat dualisme partikel dan
gelombangnya cukup kentara. Sayangnya, qubit sangat susah untuk dimanipulasi karena keadaan superposisi kuantum dari qubit dengan mudah dihancurkan dengan sedikit gangguan saja. Fenomena terkait hal ini dikenal sebagai decoherence, yang membuat qubit tidak dapat bekerja sebagaimana harusnya. Nah, riset untuk membuat komputer kuantum pada masa sekarang ini banyak difokuskan untuk menghilangkan decoherence tersebut.
Komputer kuantum secara nyata dan fisik
yang layaknya komputer konvensional memang belum benar-benar hadir di
hadapan kita. Tetapi, para fisikawan optimistis, dengan algoritma
kuantum yang sudah mapan disertai perkembangan peralatan eksperimen,
mudah-mudahan komputer kuantum komersial bisa segera kita nikmati.
Faktanya, saat ini bahkan sudah ada perusahaan bernama D-wave (http://www.dwavesys.com/)
yang mulai mengomersialkan desain komputer kuantum dan algoritma
kuantum. Selain itu, ada Alibaba, Google, dan Microsoft yang secara
independen masuk investasi serta riset ke arah komersialisasi komputer
kuantum. Tentunya kita berharap akan ada orang Indonesia pula yang turut
berkontribusi dalam bidang ini.
Bahan bacaan:
- Deutsch, David, and Richard Jozsa. Rapid solution of problems by quantum computation.Proceedings of the Royal Society of London A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. Vol. 439. No. 1907. The Royal Society, 1992.
- Shor, Peter W. Polynomial-time algorithms for prime faktorization and discrete logarithms on a quantum komputer. SIAM review2 (1999): 303-332.
- Grover, Lov K. A fast quantum mechanical algorithm for database search. Proceedings of the twenty-eighth annual ACM symposium on Theory of computing. ACM, 1996.
- http://www.cnet.com/news/microsoft-explains-quantum-computing-so-even-you-can-understand/







